Jangkauan Serang – Kabupaten Serang merupakan salah satu wilayah bersejarah di Indonesia yang memiliki akar kekuasaan panjang, sejak zaman Kesultanan Banten hingga era pemerintahan Republik Indonesia. Berdiri pada 8 Oktober 1526, wilayah ini telah mengalami empat masa peralihan kekuasaan yang membentuk karakter sosial, budaya, dan politiknya hingga saat ini.

🔹 Awal Mula: Kerajaan Sunda hingga Kesultanan Banten
Sebelum abad ke-16, wilayah Banten—termasuk Serang—merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran, pusat pemerintahannya berada di Banten Girang, sekitar 3 km dari Kota Serang sekarang.
Masuknya Islam ke wilayah ini dimulai pada abad ke-16 oleh Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah). Beliau menaklukkan Prabu Pucuk Umun pada tahun 1524–1525 M dan mendirikan Kesultanan Banten, yang dipimpin oleh putranya, Maulana Hasanuddin, sebagai Sultan pertama (1552–1570 M).
🔹 Masa Kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa
Salah satu tokoh penting adalah Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1680), yang membawa Kesultanan Banten ke puncak kejayaan. Di masanya, sektor perdagangan, pelayaran, pertahanan, dan kebudayaan berkembang pesat. Namun, konflik internal dan politik “devide et impera” oleh Belanda menyebabkan kekuasaan Sultan Ageng direbut oleh putranya sendiri, Sultan Haji, yang pro-Belanda. Sultan Ageng wafat dalam tahanan Belanda pada 1692, namun perjuangan rakyat Banten melawan penjajah terus berlanjut.
🔹 Masa Kolonial: Belanda dan Jepang
Pada tahun 1816, Belanda resmi mengambil alih kekuasaan dari Sultan Muhammad Rafiudin, menandai berakhirnya era Kesultanan. Belanda membagi wilayah Banten menjadi tiga bagian: Serang, Lebak, dan Caringin. Pangeran Aria Adi Santika Perta sebagai Bupati Serang pertama oleh Belanda.
Kemudian, pada 3 Maret 1942, Jepang menduduki Serang dan memerintah selama 3,5 tahun. Selama masa ini, rakyat tetap mempertahankan semangat kemerdekaan hingga akhirnya Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.
🔹 Era Republik Indonesia dan Lahirnya Provinsi Banten
Setelah kemerdekaan, Kabupaten Serang menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Namun, pada 4 Oktober 2000, Serang resmi menjadi bagian dari Provinsi Banten. Berdasarkan Perda No.17 Tahun 1985, Hari Jadi Kabupaten Serang menetetapkan pada 8 Oktober 1526, bertepatan dengan penobatan Maulana Hasanuddin sebagai Sultan pertama Banten.
Baca Juga : Tegas! Andra Soni Bersih-Bersih Siswa Titipan: dan Kepsek Terlibat Akan Mencopot
🔹 Daftar Sultan Kesultanan Banten (1552–1816)
Berikut adalah 21 Sultan Banten yang pernah memimpin, dari Maulana Hasanuddin hingga Sultan Muhammad Rafiudin, yang terakhir sebelum wilayah jatuh ke tangan Belanda.
| No. | Nama Sultan | Tahun Menjabat |
|---|---|---|
| 1 | Maulana Hasanuddin | 1552 |
| 2 | Maulana Yusuf | 1570 |
| 3 | Maulana Muhammad | 1580 |
| 4 | Sultan Abdul Mufakir | 1596 |
| 5 | Sultan Abdul Maali | 1640 |
| 6 | Sultan Ageng Tirtayasa | 1651 |
| 7 | Sultan Haji | 1672 |
| 8 | Sultan Abdul Fadhal | 1687 |
| 9 | Sultan Abdul Mahasin | 1690 |
| 10 | Sultan Muhammad Syofa’i | 1733 |
| 11 | Sultan Syarifudin | 1750 |
| 12 | Sultan Muhammad Wasi | 1752 |
| 13 | Sultan Muhammad Arif | 1753 |
| 14 | Sultan Abdul Mafakh | 1773 |
| 15 | Sultan Muhyidin | 1799 |
| 16 | Sultan Muhammad Ishak | 1801 |
| 17 | Sultan Pangeran Natawijaya | 1803 |
| 18 | Sultan Aliudin II | 1803 |
| 19 | Sultan Suramanggala | 1808 |
| 20 | Sultan Muhammad Syafiudin | 1809 |
| 21 | Sultan Muhammad Rafiudin | 1813–1816 |






