Akhirnya Kapolri Bicara soal Penahanan Aktivis Delpedro, Istri Gus Dur Minta Pembebasan
Jangkauan Serang — Akhirnya Kapolri Bicara Jenderal Listyo Sigit Prabowo akhirnya angkat bicara terkait penahanan aktivis Delpedro. Pernyataan ini muncul usai desakan berbagai pihak, termasuk Sinta Nuriyah Wahid, istri mendiang Gus Dur, yang secara terbuka meminta agar Delpedro dibebaskan.
Keluarga Delpedro sendiri menyatakan tetap teguh dalam perjuangan, menolak “mengemis” keadilan dan menyerahkan semuanya kepada proses hukum yang adil.
Kapolri Kami Prosedural”, Sinta Nuriyah: Bebaskan Delpedro, Demi Demokrasi”
Dalam konferensi pers, Kapolri menyatakan bahwa penahanan Delpedro dilakukan sesuai prosedur hukum. “Kami tindak berdasarkan bukti, bukan tekanan,” ujarnya.
Di sisi lain, Sinta Nuriyah Wahid menilai penahanan Delpedro mencederai prinsip keadilan. “Delpedro adalah suara rakyat, bukan kriminal,” katanya. Sementara itu, keluarga menegaskan: “Kami tidak memohon, kami menuntut keadilan.”
Delik Hukum vs Kebebasan Sipil: Kasus Delpedro dan Respons Kapolri
Penahanan aktivis Delpedro menjadi sorotan tajam pegiat HAM. Kapolri menyebut tindakan aparat berdasar aturan hukum. Namun, banyak pihak menilai penahanan ini sarat muatan politis.
Sinta Nuriyah menyebut kebebasan berpendapat tak boleh dibungkam. “Demokrasi mati jika suara kritis dipenjara,” tegasnya. Keluarga Delpedro menyampaikan sikapnya: “Kami tidak minta belas kasihan, kami minta keadilan ditegakkan.”
Baca Juga: Perkosa Anak 2 Remaja di Serang Diciduk Polisi
Delpedro dan Ujian Demokrasi Kita
Saat aktivis ditahan karena kritik, itu bukan hanya soal hukum, tapi soal arah demokrasi. Pernyataan Kapolri bahwa penahanan dilakukan secara prosedural patut diuji, bukan sekadar diterima.
Apresiasi untuk Sinta Nuriyah yang dengan tegas menyuarakan pembebasan. Sikap keluarga Delpedro yang tidak menyerah juga menjadi simbol perlawanan sipil terhadap represi negara.
Dari Jalan ke Istana: Delpedro Ditahan, Rakyat Bergerak
Penahanan Delpedro memicu gelombang solidaritas. Banyak organisasi masyarakat sipil melakukan aksi turun ke jalan.
Kapolri akhirnya merespons publik: “Semua dilakukan sesuai prosedur.” Tapi suara tokoh seperti istri Gus Dur membuat tekanan moral semakin besar. Keluarga Delpedro bersikukuh: “Kami berdiri, bukan merunduk.”
[FOTO] Saat Istri Gus Dur Bicara: “Bebaskan Delpedro”
Dalam sebuah forum kemanusiaan, Sinta Nuriyah Wahid mengangkat suaranya. “Bebaskan Delpedro, demi nurani bangsa.”
Sementara itu, keluarga Delpedro menggelar konferensi pers sederhana: tanpa air mata, tanpa permintaan belas kasihan — hanya pernyataan lugas bahwa mereka tidak akan tunduk.
Akhirnya Kapolri Bicara Keluarga Delpedro: “Kami Tak Akan Mengemis Keadilan”
Bagi keluarga Delpedro, penahanan ini bukan pertama kali mereka menghadapi tekanan. Tapi mereka menegaskan: tak ada air mata untuk media.
“Anak kami bukan kriminal. Ia hanya bicara yang tak disukai penguasa,” ujar sang ibu. Mereka yakin keadilan akan datang — bukan karena belas kasihan, tapi karena kebenaran.
Akhirnya Kapolri Bicara Delpedro, Sinta Nuriyah, dan Warisan Gus Dur yang Kembali Diuji
Apa yang akan Gus Dur lakukan jika hari ini ia melihat seorang aktivis ditahan karena kritik? Mungkin jawabannya ada dalam sikap Sinta Nuriyah: “Bebaskan Delpedro.”
Warisan demokrasi yang dijaga oleh Gus Dur kembali diuji. Kali ini, rakyat sipil kembali harus memilih: diam atau bersuara.
ktivis Ditahan, Tokoh Nasional Bicara: Bagaimana Indonesia Di Mata Dunia?
Penahanan Delpedro dan respons tokoh seperti istri Gus Dur menjadi sorotan media asing. Kebebasan sipil di Indonesia dinilai kembali dalam bahaya.
Kapolri menyatakan tindakan hukum berjalan netral. Tapi komunitas internasional menyebut: “Suara kritis bukan ancaman, melainkan aset demokrasi.”






