Harga Plastik Naik 150 Persen Produksi Air Minum Oxymine Milik PDAM Kebumen Terhenti Sementara
Jangkauan Serang – Harga Plastik Naik 150 Persen Lonjakan harga bahan baku plastik yang mencapai hingga 150 persen berdampak serius pada industri air minum dalam kemasan (AMDK) di daerah. Salah satu yang terdampak adalah produk air minum “Oxymine” milik Perumda Air Minum Tirta Bumi Sentosa yang terpaksa menghentikan sementara kegiatan produksi akibat tekanan biaya operasional yang meningkat tajam.
Kenaikan harga plastik ini membuat biaya produksi kemasan botol dan galon melonjak drastis, sehingga perusahaan daerah kesulitan menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual ke masyarakat. Dalam kondisi tersebut, manajemen akhirnya memutuskan untuk menunda sementara produksi sambil menunggu stabilisasi harga bahan baku.
Berdasarkan informasi yang beredar, harga plastik di pasaran mengalami kenaikan signifikan dari level normal,
bahkan mencapai lebih dari satu setengah kali lipat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada PDAM Kebumen, tetapi juga pada pelaku usaha AMDK skala kecil dan menengah di berbagai daerah.
Sejumlah pelaku industri menyebutkan bahwa kenaikan harga plastik turut memicu kenaikan harga produk air minum di tingkat distributor dan pedagang. Dalam beberapa kasus, harga bisa naik hingga beberapa ribu rupiah per dus, sehingga turut menekan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Menhut Jelaskan Pembatasan Kuota Wisatawan Taman Nasional Komodo Tidak Tiba tiba
Manajemen PDAM Kebumen menjelaskan bahwa penghentian sementara produksi Oxymine merupakan langkah untuk menghindari kerugian lebih besar. Selain itu, perusahaan juga tengah melakukan evaluasi rantai pasok serta mencari alternatif bahan kemasan yang lebih stabil harganya.
Di sisi lain, pihak PDAM juga disebut tengah menyiapkan rencana reaktivasi produksi dalam beberapa bulan ke depan,
apabila harga bahan baku kembali normal. Targetnya, produksi bisa kembali berjalan secara bertahap pada pertengahan tahun setelah kondisi pasar membaik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa industri air minum sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku, terutama plastik yang menjadi komponen utama kemasan. Ketergantungan pada bahan impor maupun distribusi yang tidak stabil turut memperparah dampak kenaikan harga di pasar domestik.
Pemerintah daerah dan pelaku industri kini didorong untuk mencari solusi jangka panjang,
termasuk diversifikasi bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan dan stabil dari sisi harga. Selain itu, efisiensi produksi dan penguatan rantai pasok lokal menjadi kunci agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Dengan adanya gangguan produksi ini, masyarakat diharapkan memahami kondisi yang terjadi di sektor industri air minum.






