Arab Saudi Tuntut UEA Angkat Kaki Sepenuhnya dari Yaman
Jangkauan Serang – Arab Saudi Tuntut UEA menuntut agar Uni Emirat Arab (UEA) segera menarik seluruh pasukannya dari Yaman, menandai ketegangan baru dalam hubungan kedua negara yang sebelumnya menjadi sekutu utama dalam konflik yang telah berlangsung hampir satu dekade. Tuntutan ini muncul setelah adanya perbedaan tajam dalam pendekatan kedua negara terhadap konflik Yaman yang telah menyebabkan penderitaan kemanusiaan besar-besaran dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur negara tersebut.
1. Latar Belakang Konflik Yaman
Konflik di Yaman dimulai pada 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi yang beraliran Syiah menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional yang dipimpin oleh Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Kejatuhan pemerintah ini memicu intervensi militer Arab Saudi pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah yang sah, dengan membentuk koalisi internasional yang termasuk UEA, serta beberapa negara Arab lainnya.
Namun, meskipun kedua negara tersebut awalnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengalahkan Houthi, seiring berjalannya waktu, perbedaan strategi dan kepentingan kedua negara mulai terlihat jelas. UEA mulai mengurangi keterlibatannya secara signifikan dalam konflik Yaman, memfokuskan diri pada pembentukan kekuatan otonom di selatan Yaman, sementara Arab Saudi tetap terlibat dalam pertempuran melawan Houthi di utara.
2. Ketegangan Terkini: Tuntutan Penarikan Penuh
Tuntutan terbaru dari Arab Saudi agar UEA sepenuhnya menarik diri dari Yaman mencerminkan semakin memburuknya hubungan antara kedua negara. Tuntutan tersebut mencakup penarikan pasukan UEA yang telah mengendalikan beberapa wilayah strategis di selatan Yaman, termasuk Aden dan Mukalla, serta menghentikan dukungan terhadap pasukan separatis yang telah memperburuk ketegangan internal di Yaman.
Arab Saudi merasa kecewa dengan langkah UEA yang semakin menjauh dari koalisi dan terkesan tidak sejalan dengan tujuan utama Saudi dalam memulihkan pemerintah Hadi dan mengalahkan kelompok Houthi. Riyadh beranggapan bahwa pendekatan militer UEA di selatan Yaman malah telah memecah belah pasukan anti-Houthi dan memperburuk situasi di wilayah tersebut.
“Kami menginginkan penyelesaian yang jelas dan langkah konkret dari UEA untuk menarik diri sepenuhnya dari Yaman. Keterlibatan UEA yang terpecah-pecah dan ambiguitas dalam tujuan mereka semakin memperburuk kondisi yang sudah sangat sulit di negara ini,” ungkap Jubir Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Faisal al-Turki, dalam sebuah wawancara dengan media internasional.
Baca Juga: Pemerintah AS Bela Agennya Tembak MAti Alex Pretti
3. Perbedaan Strategi dan Kepentingan
Perbedaan utama antara Arab Saudi dan UEA terletak pada pendekatan politik dan militer terhadap situasi di Yaman. Arab Saudi lebih fokus pada pemberantasan Houthi dan mendukung pemerintah yang sah di Yaman, sedangkan UEA lebih tertarik pada pengembangan kekuatan lokal dan memperkuat pengaruh mereka di wilayah selatan Yaman, termasuk di Aden yang menjadi pusat ekonomi utama Yaman.
Selain itu, UEA juga terlibat dalam mendukung kelompok-kelompok separatis Selatan Yaman, yang dikenal dengan Dewan Transisi Selatan (STC). Pendekatan ini semakin memperburuk ketegangan antara pasukan loyalis Hadi yang didukung Arab Saudi dengan kelompok separatis yang didukung UEA. Arab Saudi melihat langkah ini sebagai ancaman terhadap kesatuan negara Yaman, yang memperburuk konflik internal dan menyulitkan proses perdamaian.
4. Reaksi UEA dan Posisi Diplomatik
Meskipun Arab Saudi menuntut agar UEA segera menarik pasukannya, UEA belum memberikan respon resmi yang tegas terhadap tuntutan tersebut. Namun, beberapa analis diplomatik memperkirakan bahwa UEA akan mengedepankan pendekatan diplomatik untuk menyelesaikan masalah ini.
5. Arab Saudi Tuntut UEA Dampak Bagi Situasi di Yaman
Tuntutan Arab Saudi terhadap UEA ini menambah lapisan kompleksitas dalam konflik Yaman yang telah berlangsung selama hampir sepuluh tahun. Perpecahan di dalam koalisi yang sebelumnya kokoh ini berisiko memperburuk ketegangan di Yaman, mengingat pembagian wilayah yang tidak jelas dan konflik antara kelompok pro-Saudi dan separatis selatan yang semakin meningkat.
Di sisi lain, ini juga menambah tantangan bagi upaya perdamaian internasional di Yaman. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah negara pendukung perdamaian sebelumnya telah berusaha mempertemukan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk mencapai kesepakatan politik. Namun, ketegangan antara Arab Saudi dan UEA dapat mempersulit proses tersebut.
6. Kemungkinan Dampak Terhadap Hubungan Arab Saudi dan UEA
Walaupun kedua negara ini memiliki sejarah panjang dalam kerjasama politik dan ekonomi, ketegangan terkait Yaman menyoroti perbedaan yang semakin besar dalam prioritas strategis dan pendekatan terhadap kebijakan luar negeri.
Namun, beberapa analis politik menilai bahwa meskipun ketegangan meningkat, kedua negara ini kemungkinan akan mencari solusi diplomatik agar tidak memperburuk hubungan bilateral yang sudah terjalin lama, terutama dalam menghadapi tantangan besar di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran dan geopolitik Arab yang lebih luas.






