Negara Muslim Termasuk Indonesia, Sambut Positif Rencana Trump Akhiri Perang di Gaza
Jangkauan Serang — Negara Muslim termasuk Indonesia, menyatakan dukungan prinsipil terhadap rencana mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengusulkan langkah diplomatik untuk mengakhiri konflik bersenjata di Gaza. Pernyataan dukungan tersebut disampaikan menyusul pernyataan Trump yang mengaku siap memediasi dan “menutup buku peperangan di Timur Tengah” jika kembali menduduki Gedung Putih.
Meski usulan tersebut datang dari tokoh kontroversial, sejumlah pemimpin negara Islam melihatnya sebagai peluang diplomasi baru dalam krisis yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan menyebabkan kehancuran masif di Gaza sejak konflik terbaru pecah lebih dari setahun lalu.
Indonesia: Prinsip Solusi Damai Ditegaskan
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menanggapi rencana Trump dengan hati-hati namun terbuka.
“Indonesia menyambut baik setiap upaya internasional yang mendorong tercapainya gencatan senjata permanen, pemulihan kemanusiaan, dan solusi dua negara yang adil dan bermartabat. Jika rencana tersebut memiliki niat yang tulus dan melibatkan semua pihak, tentu bisa menjadi titik awal pembicaraan serius,” ujarnya saat konferensi pers mingguan.
Baca Juga: PERINGKAT Klasemen PSMS Medan Melejit Usai Hajar Sumsel United, Makin Pede Incar Kemenangan Lagi
Dukungan dari Dunia Arab dan Organisasi Islam
Selain Indonesia, sejumlah negara seperti Turki, Qatar, dan Arab Saudi juga menyatakan ketertarikan untuk mengetahui lebih lanjut rincian dari proposal Trump.
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam pernyataan singkatnya menyebut bahwa dunia Islam terbuka terhadap setiap inisiatif yang mendukung hak-hak sah rakyat Palestina, termasuk hak untuk hidup bebas dari penjajahan, kekerasan, dan blokade berkepanjangan.
Trump Klaim Siap Mediasi dan Dorong Rekonstruksi Gaza
Dalam wawancara eksklusif dengan media internasional pekan lalu, Trump menyatakan keinginannya untuk kembali berperan aktif dalam penyelesaian konflik Gaza jika terpilih kembali sebagai Presiden AS dalam Pilpres 2026 mendatang.
Ia juga menyebut bahwa beberapa pemimpin negara Timur Tengah telah “menyatakan kesediaan” untuk duduk bersama dan membahas skema gencatan senjata jangka panjang, termasuk pembangunan kembali Gaza yang saat ini hancur total akibat perang.
“Kita perlu duduk di meja, tanpa senjata, dan bicarakan solusi nyata. Gaza butuh kedamaian, Israel juga butuh jaminan keamanan. Saya tahu bagaimana menyatukan mereka,” kata Trump dalam wawancaranya.
Negara Muslim Catatan Kritis dan Skeptisisme
Meski demikian, sejumlah pengamat internasional dan kelompok pro-Palestina menyampaikan sikap skeptis terhadap niat Trump, mengingat rekam jejaknya saat menjabat sebagai Presiden AS, terutama terkait pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv.
“Retorika Trump saat ini terdengar lebih damai, tapi kita harus realistis. Apakah ini murni untuk menyelesaikan konflik, atau bagian dari kampanye politiknya?” ujar Anwar Ghafur, pengamat hubungan internasional dari Universitas Paramadina.
Kesimpulan
Indonesia, bersama negara-negara sahabat, menegaskan bahwa setiap langkah menuju perdamaian harus menjunjung keadilan, melibatkan semua pihak secara setara, dan menjadikan hak rakyat Palestina sebagai pijakan utama.






